Saturday, September 3, 2011

Lautan Hatiku

Wahai kekasihku,
Hatiku merindu,
Memang merindu akanmu.

Kayak perak yang murni,
Bersinar waktu malam,

Bayangan indah,
Elok dan ayu,
Bayangan wajah,
Hati merindu.

Membayang Ratu Malam,
Atas lautan hatiku,

Wahai kekasihku,
Hatiku merindu,
Memang merindu akanmu.

Citra wajahmu,
Dibayangkan begitu,
Atas permukaan lautan hatiku.

Tanpa tudung kulihatmu,
Memang citra nurani,
Wahai kekasihku,
Hatiku merindu,
Memang merindu akanmu.

Friday, December 31, 2010

Dendang Syufi

Hai marilah berzikir Allah, Allah,
Dan melaksanakan janji setia,
Senantiasa berzikir namanya,
Segala sesuatu daripadanya.

Kalau lihat Allah di mana-mana,
Membuangkan hawa nafsu sederhana,
Maka tidak terlihat selain Allah,
Hilang tipu daya dari hatinya.

Manusia tercipta sebagai hamba,
Yang ditahan dalam penjara dunia,
Dalam kegelapan dapat ilmunya,
Maka dari Hak tak pernah terpisah.

Di dalam dunia cari Singa Allah,
Kalau di sini tidak mendapatnya,
Memang akan jadi bosan di sana,
Harus ikut jalan yang bijaksana.

Tanpa mursyid tak sampai tujuannya,
Tanpa berkahnya tak kenal Tuhannya,
Tanpa mursyid bergaul dengan setannya,
Dan menyangka dia memang temannya.

Datanglah, hai sufi, marilah pulang,
Kesempatan inilah sangat jarang,
Marilah kita bergandengan tangan,
Dan berjalan bersama atas jalan.

Tuesday, November 9, 2010

Di Dalam Taman Kekasih

Di dalam taman ini dengan kekasihku,
Tak pernah keluar dari kedekatannya,
Semoga terbuka tudung, wahai cendra mata,
Tutup pintu kami di sini terpencil saja.

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!
Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Semoga diangkat sekarang cawan itu,
Cawan keriangan dan suka hati saya,
Ayuhai pemain-pemain serta rebanamu,
Mari kita menyanyi selagu mengharukan!

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!
Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Wahai saki, wahai adirupa!
Bawalah anggur harum itu sekarang ini!
Supaya kami semua bisa meminumnya,
Kemudian dapat datang waktu sang tidurnya.

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!
Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Tidur itu memang sangat dalam-dalam,
Di bawah sayang-sayang jagaan kekal,
Baik minuman ini tak melewati tenggorokan,
Maupun tidur ini tak bersumber pada malam.

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!
Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Sekarang biarkan hamba tetap berdiam-diam,
Dan tak kumenyatakan segala sesuatu,
Lewat kata-kata engkau tak pernah dikenal,
Karena engkaulah, dari kata lebih nyata.

Sebagai akibat kata jadi pemikiran,
Dan engkau jauh sekali daripada khayalan
Jadi biarkan hambamu tetap berdiam-diam,
Biarkan saya menikmati cendera mataku.

Sunday, October 10, 2010

Kami Tak Keluar

Kabar tersebar di kota,
Bahwa musuh sudah lari,
Dikalahkan musuh hina,
Maka melarikan diri.

Dalam tiap penjuru taman,
Tanpa gaok-gaok gagak,
Di tiap pojok perayaan,
Tanpa serigala-serigala galak.

Kami tak keluar, hai kawan,
Dari sini, dari taman,
Madu, madu, kemanisan,
Sambil mahbub disaksikan.

Wednesday, September 15, 2010

Dari Timur Terbit Cahaya

Dari timur terbit caya,
Yang menyebar atas bumi,
Memenuhi jagat raya,
Dengan nur yang mengagumi.

Nur itu memang berkilat,
Menyilaukan mata saya,
Sinar-sinarnya merambat,
Kayak api bercahaya.

Kumemandang pandanganya,
Yang mengharukan hatiku,
Mengingatkan pada wajah,
Wajah cahaya mataku.

Tapi caya matahari,
Tak bisa dibandingkannya,
Dengan cahaya lestari,
Itulah jelas dan nyata.

Memang terang bulan sabit,
Yang lewat jalan angkasa,
Kalau matahari terbit,
Caya bulan tak perkasa.

Tuesday, August 17, 2010

Kemerdekaan

Bulan Allah sudah datang,
Rabbul-Alamin dan Tuhan,
Di dalamnya banyak bujang,
OlehNya dimerdekakan.

Pintu surga, gerbang langit,
Dan lawang rahmah terbuka,
Di dalam Hari Berbangkit,
Amalannya lebih suka.

Bulan Ramadhan, hai kawan,
Lebih baik dari seribu,
Yaitu seribu bulan,
Sama dengan bulan itu.

Di dalamnya beribadat,
Lihatlah berkah kentara,
Dikirimkan malaikat,
Membawa kunci penjara.

Maka tetap bangun kawan,
Berdoa dan bertahajud,
Tuhanmu sangat dermawan,
Waktu berukuk dan sujud.

Sujud-sujud itu, kawan,
Dalam bulan suci ini,
Menyampaikanmu ke taman,
Kau menikmati di sini.

Saturday, August 7, 2010

Cinta Saja

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu,
Jadi segala sesuatu,
Yang kumelihat di situ.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.

Kayak sinar matahari,
Atas permukaan hati,
Cinta itu meliputi,
Hatiku sama sekali.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.

Dalam hati tetap malam,
Kacau-balau tanpa salam,
Hati muram suram guram,
Gelap buta penuh waham.

Terbit sinar surya terang,
Maka tudung waham hilang,
Tidak terlihat sekarang,
Selain cahaya merelang.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.