Thursday, December 17, 2009

Angin Sepoi-Sepoi

Bawalah keharumannya,
Atas punggung samirana,
Biarkan datang kayak kuda,
Dengan pengendara.

Angin sepoi-sepoi pagi,
Pesuruh dinihari,
Bawalah keharumannya,
Hatiku menari.

Kalau bawa untuk saya,
Seikal rambutnya,
Kumenukar jagat raya,
Serta jiwa saya.

Bawalah keharumannya,
Atas punggung samirana,
Biarkan datang kayak kuda,
Dengan pengendara.

Kalau tak boleh kaumasuk,
Dan mendekatinya,
Tinggalkanlah pesan rindu,
Dekat gapuranya.

Kalau bisa kaumendapat,
Dari pintu gerbangnya,
Bawa debu yang berkilat,
Bagai celak mata.

Bawalah keharumannya,
Atas punggung samirana,
Biarkan datang kayak kuda,
Dengan pengendara.

Sunday, November 29, 2009

Ampunilah Saya

Ya Allah! Ampunilah,
Dosa-dosaku,
Yang Kau mengetahuinya,
Lebih baik dariku.

Ya Rabbi! Kalau kuberbuat,
Dosa dan daga-dagi,
Biarlah ampunanMu,
Menutupinya lagi.

Ya Rabbi! Ampunilah,
Dosa yang dibuat,
Oleh mataku,
Ampunilah hambaMu!

Ampunilah kata-kataku,
Yang keji dan buruk,
Dan ampunilah ketidakmampuanku,
Menahan nafsuku.

CintaanMu kepada,
Mereka yang Kau suka,
Memang adalah lebih daripada,
Cinta yang dalam dunia.

Kau Sendiri bantuan mereka,
Yang tawakal padaMu,
Dengarlah kepadaku,
Wahai Tuhanku!

Berikanlah petunjuk padaku,
Agar kumeminta,
DariMu apa yang menguntungkan,
HambaMu selalu.

Ya Allah, adiliku,
Di dalam urusanku,
Berdasarkan keampunanMu,
Tak keadilanMu.

Sunday, November 15, 2009

Tawanan Kegembiraan

Wahai saudara-saudari,
Mari mengharubirukan,
Mari melarikan diri,
Dari rantai-rantai zaman.

Mari kita duduk, kawan,
Diatas Tahta daulat,
Mari bangkit sekalian,
Dari nafsu berangkat.

Mari kita tak memilih,
Habib kecuali Dia,
Mari tak duduk disini,
Dengan yang terhina.

Wahai Allah, banjir kalbu hambamu,
 Memang sangat kubersyukur padaMu.

Jangan sayu-rayu, kawan,
Dari dunia fani itu,
Tuangkanlah anggur riangan,
Dalam cawan kalbu.

Saya menjadi tawanan,
Tawanan kemujuran,
Tidak hanya pantangan,
Bukan pertapaan.

Kalau pergantian zaman,
Datang dengan kekerasan,
Dan dilihat kekasaran,
Tak pernah kumelawan.

Wahai Allah, banjir kalbu hambamu,
 Memang sangat kubersyukur padaMu.

Kalbuku penuh gulali,
Dan jadi sangat riang,
Sudah talak tiga kali,
Dunia itu, jadi girang.

Mabuk berahi sejati,
Tak bisa dijelaskan,
Apa yang didalam hati,
Tak bisa dibayangkan.

Mari kita tak memilih,
Habib kecuali Dia,
Mari tak duduk disini,
Dengan yang terhina.

Friday, October 9, 2009

Don't Turn Back

Along the rugged coastline my eyes they were fixed,
As the tide rolled in, I tell you, my feelings they were mixed.
The sea stretched out before me with fathoms of blue,
Of the journey that awaited it offered not a clue.

My body trembled so, and my resolution failed,
My palms were cold and wet, and my lips began to pale.
Should I really make this journey, or stay here on the coast?
I considered once again what it was that I wanted most.

I lifted my hand above my brow and looked out once again.
Scanning the horizon, I tried to see the end.
I stood there in the cold wind, it was so very stark,
And I pondered deeply this journey on which I would embark.

I dropped my hands down to my sides and stood there by the water.
Thoughts raced through my head of the things I owned, and all my sons and daughters.
This journey I must make alone, I must leave them all behind,
And in the end I wasn't even sure what it was that I would find.

What I needed was a ship to take me across the waves,
I also needed courage but I knew that I wasn't brave.
My determination seemed so weak as I stood there all alone,
But I knew this land that I was in was surely not my home.

Something from deep within me, what it was I couldn't say,
Assured me that my real home across the ocean it did lay,
I knew that I did not belong here, of this I was very sure,
Yet I was not certain I wanted to leave as I stood there on the shore.

This indecision haunted me, but my time was running out,
The sea was full of whirlpools and my head was full of doubt.
If I found a ship to take me who was there that could sail it?,
I didn't know if I'd get another chance, and I didn't want to fail it.


A ship is what I needed, for the journey was so long,
A worthy ship with sails and mainmast that were very strong.
And a captain who himself knew the way and could take me on this trip,
Who knew his way through the reefs and whirlpools, and how to guide this ship.

As I stood there contemplating, for I'd decided that I'd go,
I decided in an instant, but it seems so long ago.
There I stood wondering what to do with my feet upon the shore,
A man approached and looked at me, he said his name was Noah.


He said, 'I've got this ship and I think it's just what you need,
And I've made this trip before, so I can make it with some speed.
I've seen the people there that inhabit that domain,
And I can tell from your features that you are just the same.'

So I boarded the ship with him and the journey has begun,
Some days the storms do rage, and some days there is sun.
But he really knows this ship and he really knows the sea,
And in the middle of the tempest, I feel tranquility.

The journey still continues but that distant shore is near,
When there is a captain like Noah, there's very little fear.
The fear there is it comes from me, it never comes from him.
He tells me this ship will never sink, and he says it with a grin.

Friday, September 25, 2009

Allah, Hati MemanggilMu

Hamba ini tetap heran,
Meminta-minta rahmatMu,
Dalam dunia diasingkan,
Allah, hati memanggilMu!

Ada yang ingin pahala,
Hamba tak ingin selainMu,
Itu adalah berhala,
Allah, hati memanggilMu!

Memang tak kuingin surga,
Walaupun adalah ayu,
Kudamba hanya Sahibnya,
Allah, hati memanggilMu!

Tanpa wajahMu di surga,
Jadi muka hauri kuyu,
Dari wajahMu cahaya,
Allah, hati memanggilMu!

HambaMu ini termala,
Hatiku menjadi mutu,
Aku mangsa serigala,
Allah, hati memanggilMu!

Cintaan hambaMu lemah,
Kumengadu kepadaMu,
Aku selalu terlecah,
Allah, hati memanggilMu!

Hamba ini tetap heran,
Meminta-minta rahmatMu,
Dalam dunia diasingkan,
Allah, hati memanggilMu!

Hamba ini tetap heran,
Meminta-minta rahmatMu,
Dalam dunia diasingkan,
Allah, hati memanggilMu!
Allah, hati memanggilMu!

Sunday, September 13, 2009

Tobat Berkali-kali

Jangan putus asa,kawan,
Pada tobat ini kembali,
Kalau langgar penyesalan,
Walaupun serbu kali.


Jikalau kamu bertobat,
Tapi selalu tergoda,
Dan kau jika tidak takut,
Tobat lagi, hai pendosa.

Tobat diterima Tuhan,
Kembali lagi kembali,
Sampai tobatmu bertahan,
Tobatlah berkali-kali.

Allah memang Maha esa,
Tobatlah di mana-mana,
Minta-minta tobat lagi,
Yakni tobat yang perkasa.

Tobatlah sebelum mati,
Kembali lagi kembali,
Rasa tobat dalam hati,
Bagai madu dan gulali.

Memang muslim sepantasnya,
Merasa beruntung saja,
Tak merasa putus-asa,
Walau miskin atau raja.

Itulah anugerahnya,
Yakni tobat dan istighfar,
Pada umatnya Mustafa,
Tuhanmu Jawab dan ghaffar.

Sunday, September 6, 2009

Harta Dalam Puing

HartaNya disembunyikan,
Di dalam puing yang ini,
Carilah, wahai pahlawan
Dalam puing yang di sini.

Awal mesti disadari,
Apa-apa puing itu,
Maka mulai cari-cari,
Harta Karun yang di situ.

Tubuh-tubuh dari debu,
Yang memang tidak berharga,
Debu bukan harta itu,
Tapi di dalamnya harta.

Hartanya memang tertimbun,
Jangan-jangan diboroskan,
Di dalam puing di gurun,
Cari-cari mendapatkan.

Jikalau terdapat harta,
Bisa dibangunkan lagi,
Istana yang runtuh saja,
Baru dan indah menjadi.

Tapi awal cari-cari,
Jangan malas, jangan lalai,
Cari-cari intisari,
Di dalam hatimu damai.

Puing menjadi istana,
Dulu tak berharga tapi,
Setelah terdapat harta,
Menjadi keraton rapi.

Monday, August 31, 2009

Agama

Jikalau agama saya,
Tidak memenuhi kalbu,
Dengan gula dan cahaya,
Tidak mau agama itu.

Jikalau hatiku kecewa,
Dan tetap gelap-gulita,
Apa gunanya agama,
Itulah nama belaka.

Agamamu dikurangi,
Kalau hati tak melagu,
Dan kau tetap dicurangi,
Kalau hidupmu begitu.

Seharusnya agamamu,
Menjadi seperti kunci,
Kunci yang  membuka pintu,
Maka hati dipenuhi.

Dipenuhi hati itu,
Dengan cahaya dan gula,
Jikalau tidak begitu,
Agamamu tak sempurna.

Islam bukan nama saja,
Adalah agama suci,
Lengkap dan memang sempurna,
Kalau datang dari Nabi.

Langsung dari Nabi Allah,
Tidak dari hawa nafsu,
Nafsu yang gelap gulita,
Tidak menerangi kalbu.

Tuesday, August 25, 2009

Ucapkanlah Bersama

Wahai Muslim, Wahai Hindu,
Mari ucapkan bersama,
La ilaha illallahu,
Bersama, satu irama!
Pengikut Buda dan Yesus,
Mari kita mengucapkan,
La ilaha illallahu,
Mari masuk dalam taman.
Marilah makan sajian,
Dengan ucapan yang itu,
Hai! Tinggalkanlah makian,
La ilaha illallahu.
La ilaha illallahu!
Mari kita jadi satu,
Zikir Allah, kiri-kanan,
La ilaha illallahu,
Ucapannya menyegarkan.
La ilaha illallahu!
Adalah lautan asmara,
Ahmad adalah perahu,
Berlayarlah diatasnya.
Mari kita jadi satu,
Zikir Allah, kiri-kanan,
La ilaha illallahu,
Kayak sufi, wahai kawan.