Friday, December 31, 2010

Dendang Syufi

Hai marilah berzikir Allah, Allah,
Dan melaksanakan janji setia,
Senantiasa berzikir namanya,
Segala sesuatu daripadanya.

Kalau lihat Allah di mana-mana,
Membuangkan hawa nafsu sederhana,
Maka tidak terlihat selain Allah,
Hilang tipu daya dari hatinya.

Manusia tercipta sebagai hamba,
Yang ditahan dalam penjara dunia,
Dalam kegelapan dapat ilmunya,
Maka dari Hak tak pernah terpisah.

Di dalam dunia cari Singa Allah,
Kalau di sini tidak mendapatnya,
Memang akan jadi bosan di sana,
Harus ikut jalan yang bijaksana.

Tanpa mursyid tak sampai tujuannya,
Tanpa berkahnya tak kenal Tuhannya,
Tanpa mursyid bergaul dengan setannya,
Dan menyangka dia memang temannya.

Datanglah, hai sufi, marilah pulang,
Kesempatan inilah sangat jarang,
Marilah kita bergandengan tangan,
Dan berjalan bersama atas jalan.

Tuesday, November 9, 2010

Di Dalam Taman Kekasih

Di dalam taman ini dengan kekasihku,
Tak pernah keluar dari kedekatannya,
Semoga terbuka tudung, wahai cendra mata,
Tutup pintu kami di sini terpencil saja.

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!
Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Semoga diangkat sekarang cawan itu,
Cawan keriangan dan suka hati saya,
Ayuhai pemain-pemain serta rebanamu,
Mari kita menyanyi selagu mengharukan!

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!
Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Wahai saki, wahai adirupa!
Bawalah anggur harum itu sekarang ini!
Supaya kami semua bisa meminumnya,
Kemudian dapat datang waktu sang tidurnya.

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!
Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Tidur itu memang sangat dalam-dalam,
Di bawah sayang-sayang jagaan kekal,
Baik minuman ini tak melewati tenggorokan,
Maupun tidur ini tak bersumber pada malam.

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!
Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Sekarang biarkan hamba tetap berdiam-diam,
Dan tak kumenyatakan segala sesuatu,
Lewat kata-kata engkau tak pernah dikenal,
Karena engkaulah, dari kata lebih nyata.

Sebagai akibat kata jadi pemikiran,
Dan engkau jauh sekali daripada khayalan
Jadi biarkan hambamu tetap berdiam-diam,
Biarkan saya menikmati cendera mataku.

Sunday, October 10, 2010

Kami Tak Keluar

Kabar tersebar di kota,
Bahwa musuh sudah lari,
Dikalahkan musuh hina,
Maka melarikan diri.

Dalam tiap penjuru taman,
Tanpa gaok-gaok gagak,
Di tiap pojok perayaan,
Tanpa serigala-serigala galak.

Kami tak keluar, hai kawan,
Dari sini, dari taman,
Madu, madu, kemanisan,
Sambil mahbub disaksikan.

Wednesday, September 15, 2010

Dari Timur Terbit Cahaya

Dari timur terbit caya,
Yang menyebar atas bumi,
Memenuhi jagat raya,
Dengan nur yang mengagumi.

Nur itu memang berkilat,
Menyilaukan mata saya,
Sinar-sinarnya merambat,
Kayak api bercahaya.

Kumemandang pandanganya,
Yang mengharukan hatiku,
Mengingatkan pada wajah,
Wajah cahaya mataku.

Tapi caya matahari,
Tak bisa dibandingkannya,
Dengan cahaya lestari,
Itulah jelas dan nyata.

Memang terang bulan sabit,
Yang lewat jalan angkasa,
Kalau matahari terbit,
Caya bulan tak perkasa.

Tuesday, August 17, 2010

Kemerdekaan

Bulan Allah sudah datang,
Rabbul-Alamin dan Tuhan,
Di dalamnya banyak bujang,
OlehNya dimerdekakan.

Pintu surga, gerbang langit,
Dan lawang rahmah terbuka,
Di dalam Hari Berbangkit,
Amalannya lebih suka.

Bulan Ramadhan, hai kawan,
Lebih baik dari seribu,
Yaitu seribu bulan,
Sama dengan bulan itu.

Di dalamnya beribadat,
Lihatlah berkah kentara,
Dikirimkan malaikat,
Membawa kunci penjara.

Maka tetap bangun kawan,
Berdoa dan bertahajud,
Tuhanmu sangat dermawan,
Waktu berukuk dan sujud.

Sujud-sujud itu, kawan,
Dalam bulan suci ini,
Menyampaikanmu ke taman,
Kau menikmati di sini.

Saturday, August 7, 2010

Cinta Saja

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu,
Jadi segala sesuatu,
Yang kumelihat di situ.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.

Kayak sinar matahari,
Atas permukaan hati,
Cinta itu meliputi,
Hatiku sama sekali.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.

Dalam hati tetap malam,
Kacau-balau tanpa salam,
Hati muram suram guram,
Gelap buta penuh waham.

Terbit sinar surya terang,
Maka tudung waham hilang,
Tidak terlihat sekarang,
Selain cahaya merelang.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.

Thursday, July 15, 2010

Biduan IstanaNya

Kalau seseorang tanya,
Tentang hamba rendah ini,
Saya hanya biduanNya,
Dalam istanaNya kini.

Hanya biduan istanaNya,
Yakni biduan Maharaja,
Yang melagu laguanNya,
Tentang asmaraNya saja.

Rinduan dan cinta saja,
Memenuhi hati hamba,
Hati takhta Maharaja,
Maka akanNya kudamba.

Jikalau masuk dalamnya,
Dan kau menjadi sahaya,
Yakni dalam istanaNya,
Akan lihat jagat raya.

Rahasia yang mengherankan,
Yang batin menjadi lahir,
Tak kubisa menjelaskan,
Lidah tak begitu mahir.

Hamba masuk dalam hati,
Dan melihat singgasana,
Maka hidup sambil mati,
Bodoh jadi bijaksana.

Itulah teka-tekiNya,
Tapi sangat sederhana,
Masuk dalam istanaNya,
Dan melagu laguanNya.

Monday, June 21, 2010

Mabuk

HambaMu mabuk begitu,
Tak mampu membedakannya,
Di antara Adam itu,
Dan Hawa pemajikannya.

Mabuk, mabuk, wahai,
Dalam lautan yang berombak,
Di semudera keriangan,
Tak masuk akal dan otak.

Tak kutahu yang di atas,
Atau yang di bawah juga,
Lewat dunia yang terbatas,
Hal yang ini tak terduga.

Mana barat, mana timur?
Atau kidul dan utara?
Hal yang ini memang luhur,
Tenggelam di laut asmara.

Tak kubisa memampangkan,
Hal yang memang tidak ada,
Dalam dunia ini, kawan,
Dengan ucapan dan kata.

Thursday, June 3, 2010

Badan dan Hati

Badanmu sebagian dunia,
Tetapi hati dari Akhirah.
Kawan badan, adalah udara,
Dan kawan hati, adalah Allah.

Hati heran di dalam dunia,
Senantiasa terlara-lara.
Seluruh dunia dan angkasa,
Tak bisa terisi dukaannya.

Dan jikalau kau suka jiwa,
Jikalau muncul rahmat Allah,
Sebab rinduan dan cinta,
Akan diselamatkannya.

 Dan jikalau kecintaanmu,
Adalah untuk udara dan tubuh,
Akan tetap di dalam abu,
Dalam si dunia dan alam rindu.

Jikalau muncul perhasilanNya,
Maka memberikan ilhamnya.

Hai . . .!
Alam lahir adalah tanda,
Yang menunjukkan padaNya,
Yang ini adalah gumpalan tanah,
Tapi yang itu, lautan raya.

Bila muncul sinar matahari,
Maka menghilangkan Bimasakti,
Biarku berdiam sekarang ini!
Kesunyian adalah kunci.

Saturday, May 29, 2010

Mazhab Cinta

Cinta tak cuma sarana,
Bukanlah pemainan saja,
Adalah akhlak istana,
Cinta sifat ragam Raja.

Mazhab cinta paling aneh,
Sultan dan hambanya sama,
Kedua-duanya remeh,
Dihapuskan oleh kama.

Kalau kumenjadi abu,
Di dalam api asmara,
Dari daftar wujud itu,
Hilangkanlah nama saya.

Mutu kabla an tamutu,
Dalam api cinta mati,
Itulah maksudnya jitu,
Waktu bersabdanya Nabi.

Sudah mati asyik tapi,
Tetap hidup sang maksyuknya,
Hidupnya memang sejati,
Si asyik pinjam hidupnya.

Thursday, May 13, 2010

Ayolah Jiwa Yang Tenang

Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Rasul bersabda begitu,
Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Akhir utusan Tuhan.

Ayolah jiwa yang tenang,
Kembali kepada Tuhan,
Tanah air sejati terang.

Kau senang dan menyenangkan.

Di luar dunia dan maya,
Tanah airmu sejati,
Di dalam alam cahaya,
Di situ tak pernah mati.

Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Rasul bersabda begitu,
Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Akhir utusan Tuhan.

Tanah airmu tak ada,
Di dalam dunia yang ini,
Padepokanmu di sana,
Dan tak terletak di sini.

Jiwa jauh dari asalnya,
Yakni tanah air itu,
Selalu rindu padanya,
Mencintainya begitu.

Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Rasul bersabda begitu,
Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Akhir utusan Tuhan.

Hai nafusul-mutmakina,
Kembali kepada Tuhan,
Kepada alam cahaya,
Hubbul-watan minal-iman.

Tak diucapkan begitu,
“Kembali kepada Tuhan”,
Kalau tak di san dulu,
Dengarlah, wahai pahlawan.

Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Rasul bersabda begitu,
Yang akhir utusan Tuhan.

Hai nafusul-mutmakina,
Kembali kepada Tuhan,
Kepada alam cahaya,
Marilah wahai pahlawan.

Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Rasul bersabda begitu,
Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Akhir utusan Tuhan.

Thursday, April 29, 2010

Pesta Asyik

Sudah datang kekasihmu,
Kenapa duduk di sini,
Mengapa tetap begitu,
Masuk kalau bijaksana.

Sudah mulai pesta, kawan,
Dan anggur sudah dituangkan,
Mengapa tetap melawan?
Pintu terbuka, silahkan.

Undanganmu sudah ada,
Kamu buta huruf, kasihan,
Maka tak bisa bacanya,
Sambil hilang kesempatan.

Kesempatan bagai awan,
Kalau lewat tak kembali,
Berdirilah, wahai kawan!
Kesempatan satu kali.

Tinggalkanlah pikiranmu,
Dan alam khayalan juga,
Harus masuk dalam pintu,
Harus meninggalkan dunia.

Itulah memang begitu,
Bigitulah ceritanya,
Jangan boroskanlah waktu,
Berdiri masuk pestanya.

Friday, March 19, 2010

Asyik Nama Allah

Saya asyik nama Allah,
Tak pernah menjadi kenyang,
Daripada lezatanNya,
Dan selalu hamba senang.

S'karang ini, wahai kawan,
Kumenikmati rasanya,
Sudah hamba masuk medan,
Medan kemanisan nama.

Ya Hayy, bantulah, bantulah!

"Allah, Allah" senantiasa,
Kuberzikir nama Tuhan,
Hal yang ini luar biasa,
Dalam surga sebuah taman.

Nama Allah membersihkan,
Hati yang penuh berhala,
Nama Allah mengaribkan,
Hati menjadi nirmala.

Ya Hayy, bantulah, bantulah!

Berzikir sepanjang hari,
Allah, Allah, Allah, Allah,
Kita datang dan kembali,
Allah, Allah, Allah, Allah.

Ya Hayy, bantulah, bantulah!

Allah salli ala Ahmad,
Nabi dan Rasulullahi,
Allah, Wahid, Ahad, Samad,
Baki, Abadi, Lestari.

Wa salli ala Alihi,
Iaitu Keluargannya,
Dan juga ala Sahbihi,
Yang memiliki akhlaknya.

Ya Hayy, bantulah, bantulah!

Friday, February 5, 2010

Astagfirullah

Astagfirullaha Rabbi Min kulli dzanbin wa khatak,

Ya Ghafar!

Astagfirullaha Rabbi,
Min kulli dzanbin wa khatak,
Biarlah hamba menakrabi,
WajahMu yang bersemarak.

Astagfirullah

Biarlah kumendekatiMu,
Dan tanpa halangan yang lain,

Ya Ghafar!

Biarlah kumendekatiMu,
Dan tanpa halangan yang lain,
Menjadi saksi mataMu,
Jangan tetap belakang kain.

Astagfirullah

Maka bersihkanlah kalbu,
Izinkanlah aku lihat,
Biarlah kulihat wajahMu,
Lihat cayanya berkilat.

Astagfirullaha Rabbi Min kulli dzanbin wa khatak,

Monday, January 11, 2010

Satu Lagu Lagi

Lagu satu lagu lagi!
Tentang kekasih sejati,
Tuangkan anggur, hai habibi!
Penuhilah cangkir hati!

Berlagulah, berebana,
Nantiasa hati teguh,
Lihatlah bulan purnama,
Mari sampai waktu subuh!

Mainkan gambus dan berlagu,
Kekasihmu sudah datang,
Mengapa kau sayu rayu,
Lihatlah wajahNya riang.

Ratu malam jalan-jalan,
Lewat langit pelan-pelan,
Mengapa berhampa tangan?
Ambillah cangkir, hai kawan!

Cinta tampak mudah tapi,
Ah! jadi berjalin-jalin,Ya Rabana remas api!
Tuangkan anggur rahmat, amin.

Anggur itu dari Tuhan,
Cinta suci, rahmat murni,
Hakk hakiki yang dituangkan,
Di penjara dunia fani.

Rahmat itu jadi lahir,
Dengan Ahmad, wahai teman,
Datang atas angin takdir,
Yang bertiup dari Taman.

Lagu satu lagu lagi!
Tentang kekasih hakiki,
Tuangkan anggur, hai habibi!
Penuhilah cangkir hati!