Saturday, May 29, 2010

Mazhab Cinta

Cinta tak cuma sarana,
Bukanlah pemainan saja,
Adalah akhlak istana,
Cinta sifat ragam Raja.

Mazhab cinta paling aneh,
Sultan dan hambanya sama,
Kedua-duanya remeh,
Dihapuskan oleh kama.

Kalau kumenjadi abu,
Di dalam api asmara,
Dari daftar wujud itu,
Hilangkanlah nama saya.

Mutu kabla an tamutu,
Dalam api cinta mati,
Itulah maksudnya jitu,
Waktu bersabdanya Nabi.

Sudah mati asyik tapi,
Tetap hidup sang maksyuknya,
Hidupnya memang sejati,
Si asyik pinjam hidupnya.

Thursday, May 13, 2010

Ayolah Jiwa Yang Tenang

Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Rasul bersabda begitu,
Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Akhir utusan Tuhan.

Ayolah jiwa yang tenang,
Kembali kepada Tuhan,
Tanah air sejati terang.

Kau senang dan menyenangkan.

Di luar dunia dan maya,
Tanah airmu sejati,
Di dalam alam cahaya,
Di situ tak pernah mati.

Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Rasul bersabda begitu,
Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Akhir utusan Tuhan.

Tanah airmu tak ada,
Di dalam dunia yang ini,
Padepokanmu di sana,
Dan tak terletak di sini.

Jiwa jauh dari asalnya,
Yakni tanah air itu,
Selalu rindu padanya,
Mencintainya begitu.

Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Rasul bersabda begitu,
Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Akhir utusan Tuhan.

Hai nafusul-mutmakina,
Kembali kepada Tuhan,
Kepada alam cahaya,
Hubbul-watan minal-iman.

Tak diucapkan begitu,
“Kembali kepada Tuhan”,
Kalau tak di san dulu,
Dengarlah, wahai pahlawan.

Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Rasul bersabda begitu,
Yang akhir utusan Tuhan.

Hai nafusul-mutmakina,
Kembali kepada Tuhan,
Kepada alam cahaya,
Marilah wahai pahlawan.

Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Rasul bersabda begitu,
Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Akhir utusan Tuhan.